PROFESI KEPENDIDIKAN

 

Judul                           : Profesi Kependidikan

Editor                          : Fata Yustianti

Dicetak oleh                : Sinar Grafika Offset

Penerbit                       : PT Bumi Aksara

ISBN                           : 978-979-010-171-5

Cetakan ke berapa       : Cetakan ketujuh, Maret 2011

Jumlah halaman           : x,146 halaman

 

PROFESI KEENDIDIKAN

Benarkah guru merupakan sebuah profesi? Ada banyak masalah yang merupakan tugas dari seorang guru. Tentunya juga berpengaruh pada pendidikan. Lagi- lagi Indonesia sedang dilanda berbagai kisis, baik krisis ekonomi, krisis moneter, krisis politik, maupun krisis kepercayaan. Pada akhirnya berbagai gejolak bermunculan, pertikaian anatar suku, pertikaian antar agama, tuntutan masyarakat dalam berbagai demonstrasi untuk menuntut hak dan keadilan, tuntutan kaum buruh agar upah minimum regional UMR dinaikkan, tuntutan gaji PNS dinaiikan, tuntutan gaji dan fugsional guru dinaikkan, dan masih banyak lagi permasalahan yang menjadi fenomena bangsa ini. Kemudian bagaiana cara kita menyikapi dari sudut pandang pendidikan?

Pendidikan merupakan sistem pencedasan anak bangsa, yang pada dewasa ini dihadapkan dengan berbagai persoalan arus globalisasi. Istilah global seolah mengajak kita berhadapan dengan dengan suatu media yang akan terlihat di seluruh daratan dan lautan. Demikian globalisasi yang dalam prespektif perjalanannya menawarkan sebuah fenomena baru yang direntangkan sejarah peradaban manusia. Oleh karena itu, kita memiliki kewajiban untuk membuat tatanan internal baru  untuk bangsa Indonesia. Reformasi menjadi wujud pertaubatan kita terhdap berbagai kesalahan yang kita lkukan selama ini. Dengan demikian reformasi harus berjalan dengan hikmat, sistematis, dan tepat sasaran. Sebagai bangsa yang besar, kita juga tidak akan melupakan perjuangan pendahulu untuk kemakmuran rakyat, namun bukan berarti  kita tidak boleh membiarkan mereka berjalan tanpa koneksi dan antisipasi. Sebab pembangunan merupakan jalan menuju perubahan.

Apabila pendidikan diposisikan sebagai alat pemecah masalah bangsa sekarang ini, sesungguhnya kita tidak terlalu banyak berbuat dari apa yang dihasilkan oleh pendidik selama ini. Dengan kata lain, terjadi keterlambatan memposisikan pendidikan sebagai alat untuk mengatasinya. Sebab diperlukan pendidikan yang bukan otoritarisme, melainkan pendidikn yang dibangun budaya bangsa Indonesia. Atau istilah dari tokoh pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantoro, pendidikan harus dibangun menggunakan strategi Tri-Kon ( Konvergen, Konsentris, dan Kontinuitas). Untuk mengembangkan pendidikan dengan strategi tersebut, yaitu dengan melaksanakan otonomisasi pendidikan, yaitu tawaran yang perlu dikembangkan dan diterapkan dengan baik.

Sekarang ini telah terjadi perubahan paradigma dalam menata manajemen pemerintahan, salah satunya adalah manajemen pendidikan. Dalam manajemen pemerintahan, aspek menonjol yang dapat dijadikan indikator yaitu dilihat sampai seberapa jauh lokus dan fokus kekuasaan itu diaplikasikan. Selain itu, peran masyarakat juga ikut menetukan demokratisasi manajemen pemerintahan.

Dalam manajemen pemerintahan kita harus melihat sejauh apa pembuatan kebijaksanaaan pendidikan itu tersentralisasi atau terdesentralisasi. Demikian juga harus mengamati seberapa jauh masyarakat berperan dalam pengeolaan pendidikan.

Sehubungan dengan masalah masalah yang timbul di bidang pendidikan, maka visi pendidikan hendaknya diarahkan untuk menyesuaikan perubahan paradigma. Pelaksanaan pendidikan selama ini diwarnai dengan pendekatan sarwa negara,  di masa yang akan datang harus berorientasi pada aspirasi masyarakat. Pendidikan harus mengenali pelanggannya, dan dari pengalaman ini pendidikan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya. Setelah memahami aspirasi dan kebutuhan mereka, baru ditentukan sistem pendidikan, macam kurikulum, dan persyaratan pengajarnya.

Apa saja isu yang berkembang di masyarakat selama ini? Isu yag berkembang diantaranya desentralisasi, demokrasi, dan otonomi. Untuk masa depan, visi pendidikan tidak lagi berorientasi pada sentralisasi kekuasaan, melainkan desentralisasi dan memberikan otonomi kepada daerah. Desentralisasi dan otonomi pendidikan merupakan isu masa depan yang harus diwujudkan dalam visi pendidikan di masa yang akan datang. Di masa depan, demokrasi dalam bidang pendidikan harus menjadi rujukan bagi praktik demokrasi di Indonesia. Pendidikan mulai dari tingkat dasar harus ditanamkan dan diajakan pemahaman demokrasi serta bagaimana praktik demokrasi dalam kehidupan sehari- hari.

Visi pendidikan berikutnya yang perlu juga memperoleh perhatian ialah meletakkan information technology, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan. Hal ini berarti mulai tingkat pendidiakan rendah sampai ke perguruan tinggi merupakan jalur linier pendidikan, pengenalan pemahaman, serta pemahaman ilmu dan teknologi di lembaga pendidikan. Dengan demikian, Indonesia tidak akan ketinggalan percaturan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di negara asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =